Tampilkan postingan dengan label ilmu budaya dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu budaya dasar. Tampilkan semua postingan

9 Apr 2012

Resume Novel Bila Malam Bertambah Malam


Keberadaan karya sastra angkatan '66 ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis. Karya sastra pada angkatan ini sangat beragam akan aliran sastra yaitu surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi  yang lainnya.
Salah satu sastrawan yang termashyur pada masa itu adalah Putu Wijaya. Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.

Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.

Karya sastranya yang terkenal salah satunya adalah "Bila Malam Bertambah Malam." Novel ini mengisahkan tentang kesetiaan untuk memelihara cinta yang berbenturan dengan keangkuhan tatanan sosial yang membeda-bedakan manusia, disini mengisahkan bagaimana dalam sebuah keluarga terdapat banyak sekali kepura-puraan. Dalam kepura-puraan itu sebenarnya setiap tokoh mempunyai seuatu perasaan kepada tokoh lain. Kisahnya berlangsung di Tabanan, Bali. Seorang janda bernama Gusti Biang, bangsawan tua sisa-sisa feodalisme Bali, begitu membanggakan kebangsawanannya. Ia hidup di rumah peninggalan suaminya dan dilayani oleh dua pembantu, yaitu seorang lelaki tua bernama Wayan, dan seorang wanita muda bernama Nyoman Niti.
Gusti Biang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta. Tapi putranya, Ratu Ngurah, jatuh cinta kepada Nyoman Niti, pembantu Gusti Biang yang menyadari kemerdekaannya sebagai pribadi. Guncangan pun tak terhindarkan akibat benturan antara nilai-nilai lama yang telah melapuk dan nilai-nilai baru yang hendak mekar. Dan kuncinya ada di tangan Wayan, veteran perang kemerdekaan dan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai yang gugur dalam Perang Puputan, yang selama bertahun-tahun setia mengabdi pada keluarga Gusti Biang.

Suatu hari, pada puncak pertengkaran dengan majikan, Wayan meninggalkan  rumah majikannya itu setelah Nyoman pergi mendahuluinya. Akan tetapi, kepergiannya tertunda karena mendengar pertengkaran janda bangsawan itu dengan anaknya yang baru datang dari Pulau Jawa, Ngurah. Karena persoalan bedil yang dibawa Wayan, terbukalah rahasia keluarga itu. Wayan sebenarnya adalah ayah Ngurah, karena suami Gusti Biang, yaitu Gusti Ngurah Ketut Mantri, bukanlah lelaki sejati. Bahkan suami yang selalu dibanggakan sebagai pahlawan itu sebenarnya seorang pengkhianat, sebab ia adalah mata-mata Nica.

Dalam permasalahan keluarga Gusti Biang, sebenarnya ia mencintai Wayan namun karena tidak ingin anaknya mengetahui bahwa ayah aslinya adalah seorang pembantu, maka Gusti Biang mengungkapkan rasa cintanya kepada Wayan dengan membentak-bentak dan memarahi Wayan, namun dalam hatinya berbeda.

Permasalahan juga datang saat Ngurah anak Gusti Biang ingin menikahi Nyoman yang notabene adalah pembantunya sendiri. Gusti Biang menolak jika Ngurah ingin menikahi nyoman kecuali hanya dijadikan selir.
Setelah itu Ngurah yang tahu bahwa I Gusti Ngurah Ketut bukan ayah sebenarnya dan mengetahui bahwa sebenarnya adalah seorang mata-mata Nica maka Ngurah pun perlahan benci. Setelah Bedil yang dimiliki oleh Wayan mengenai I Gusti maka Ngurah pun tidak sedih karena I Gusti dianggapnya sebagai penghianat.
Ketika Wayan membuka rahasia keberadaan Ngurah: Wayanlah ayah kandung Ngurah, Wayanlah yang selalu memenuhi tugas sebagai suami bagi istri-istri I Gusti Ngurah Ketut Mantri yang berjumlah lima belas.

Cerita berakhir dengan kebahagiaan bagi semua: pasangan Ngurah – Nyoman, dan pasangan tersembunyi Mirah – Wayan. Tenyata motivasi pengabdian dalam keluarga itu adalah agar ia selalu dapat menjaga orang yang dikasihinya, demikian pula motivasi Nyoman. Tanpa motivasi tersebut, mereka sudah lama tidak kuat berdiam di puri tua itu.

Dalam novel ini di ketahui bahwa kemunafikan Gusti Biang yang tidak mau mengungkapkan yang sebenarnya karena Wayan hanyalah seorang pembantu I Gusti Ngurah Ketut dan bagaimana tersiksanya batin Gusti Biang dan Wayan yang sama-sama memendam perasaannya. Selebihnya adalah bagaimana Gusti Biang menutupi kebohongan I Gusti Ngurah Ketut yang selama ini adalah mata-mata Nica dari anaknya sendiri, Ngurah. 

Dalam novel ini dapat dilihat bagaimana seorang Putu Wijaya mengonstruksi dan membuat sebuah alur cerita dengan rapi dan bagaimana penulis menjadikan psikologi tokoh digambarkan secara nyata dengan dialog yang singkat namun menghidupkan suasana dalam novel dan klimaks tersebut. Jika kita melihat dalam kenyataan yang nyata, topeng-topeng ini sering dipakai demi menutupi kebohongan-kebohongan yang dilakukan. Tidak hanya dalam rumah tangga, namun dalam berbagai bidang dan yang paling sering adalah masalah percintaan dimana seoserang memanfaatkan berbagai situasi yang ada untuk sebuah kepentingan yang menguntungkan bagi sebagian pihak.

Putu Wijaya juga sukses membuat bagaimana alur itu menjadi sangat hidup dengan pertikaian yang sebenarnya sangat sederhana. Pertikaian yang muncul adalah masalah yang kompleks dan dapat atau sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Dalam novel ini juga dapat diambil beberapa pesan moral yaitu dalam sebuah kejujuran memang sangatlah sulit untuk membuat situasi menjadi biasa. Terkadang kejujuran itu membutuhkan sebuah situasi yang jujur dan mampu menanggung segala resiko dengan baik dari segala perbuatan, sehingga topeng kemunafikan itu pun dapat disingkirkan.






Sumber :

26 Mar 2012

Manusia dan Penderitaan

Penderitaan
Definisi derita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yg menyusahkan yg ditanggung dalam hati (seperti kesengsaraan, penyakit). Sedangkan penderitaan adalah keadaan yg menyedihkan yg harus ditanggung; penanggungan.

Berbagai bentuk penderitaan yang ada di dunia ini dapat dirangkum ke dalam tiga bagian utama atau kategori, yaitu:
  1. Penderitaan biasa, misalnya sakit flu, sakit perut, sakit gigi, dan sebagainya.
  2. Penderitaan karena perubahan, misalnya berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, tidak tercapai apa yang diinginkan, sedih, ratap tangis, putus asa, dan sebagainya.
  3. Penderitaan karena memiliki badan jasmani, yaitu penderitaan karena kita lahir sebagai manusia, sehingga bisa mengalami sakit flu, sakit gigi, sedih, kecewa, dan sebagainya.
Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan. Siksaan yagn sifatnya psikis bisa berupa : kebimbangan, kesepian, ketakutan. Ketakutan yang berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya disebut phobia. Banyak sebab yang menjadikan seseorang  merasa ketakutan antara lain : claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, keakitan, kegagalan. Para ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis yang dalam, yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang. Sebaliknya ahli-ahli yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu phobia adalah problemnya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah.

Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar. Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
  1. nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
  2. nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
  1. gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita bisa jasmana maupun rohani
  2. usaha mempertahankan diri dengan cara negative
  3. Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalam gangguan
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental :
  1. Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna
  2. terjadinya konflik sosial budaya
  3. cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial
Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan negative. Trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik sebgai usaha agar tetap survey dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajut, ataupun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya. Negatif; trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan  mengalami fustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk frustasi antara lain :
  1. agresi berupa kemarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadi hypertensi atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya
  2. regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitive atau kekanak-kanakan
  3. fiksasi; adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama (tetap) misalnya dengan membisu
  4. proyeksi; merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negative kepada orang lain
  5. Identifikasi; adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya
  6. narsisme; adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari paa orang lain
  7. autisme; ialah menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yagn dapat menjurus ke sifat yang sinting.

Penderitaan yang dialami oleh manusia tentunya tidak muncul begitu saja, penderitaan memiliki sebab yang diciptakan oleh manusia itu sendiri atau manusia yang lainnya. Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin memunculkan sebuah penderitaan yang dialami oleh manusia.
Penderitaan adalah realitas dunia manusia yang tidak bisa kita hindari. Setiap manusia pasti pernah mengalami derita. Penderitaan pun memiliki beragam itensitas, ada yang berat dan ada yang ringan. Kemampuan manusia untuk mengatasi penderitaanlah yang dapat menentukan penderitaan tersebut berat atau tidak bagi dirinya. Penderitaan setiap orang berbeda. Bahkan penderitaan yang dianggap berat oleh seseorang belum tentu memiliki kadar derita yang berat juga bagi orang lain.
Namun penderitaan yang dialami di dunia haruslah menjadi motivasi bagi manusia untuk mencapai suatu kebahagiaan. Manusia memiliki pilihan untuk membuat dirinya bahagia, yaitu dengan terlepas dari penderitaan. Melepas penderitaan adalah dengan mengakhiri penderitaan yang dialami yaitu dengan menyelesaikan suatu masalah yang menyebabkan derita itu ada.
Proses yang dialami oleh manusia untuk memperoleh sebuah kebahagian pun berbeda-beda. Hal ini tergantung dari pengalaman yang didapatnya semasa hidup. Masalah dan derita adalah suatu bentuk pendewasaan diri bagi manusia. Mengalami kepahitan dapat menyimpulkan sebuah hikmah untuk terus memperbaiki diri. Menghadapi masalah adalah proses yang sangat penting. Karenanya, menghindari masalah adalah sama dengan membiarkan penderitaan itu tetap ada.
Manusia baiknyalah tidak dikuasai oleh penderitaan. Karena itu masalah yang ada di dunia harusnyalah menjadi batu loncatan bagi kita untuk memperbaiki keadaan hidup kita di masa lalu. Atasi masalah adalah cara terbaik keluar dari penderitaan.

sumber:
http://keantere21.blogspot.com/2011/01/bentuk-penderitaan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Empat_Kebenaran_Mulia
http://www.ujank.web.id/Coretan-Tugas/manusia-dan-penderitaan.html

Manusia dan Kebudayaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, manusia adalah makhluk yg berakal budi ( mampu menguasai makhluk lain ); insan; orang. Penggolongan manusia didasarkan pada jenis kelamin, usia, sosial politik serta ciri fisik.
Dalam antropologi kebudayaan, manusia dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

Arti kebudayaan menurut kamus adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Sedangkan pengertian budaya sendiri adalah pikiran; akal budi; sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah.

Kebudayaan menurut Antrolog EB Tylor (1871) adalah sesuatu yang sangat kompleks mencakup : pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Sedangkan menurut Selo Sumardjan, kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. 
Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk masyarakat.
Rasa meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah masyarakat dalam arti yang luas, didalamnya termasuk misalnya agama, ideologi, kebathinan kesenian dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat. Cipta merupakan kemamapuan mental, kemampuan berpikir dalam hidup bermasyarakat yang menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan.

Antropologi kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yg digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yg menjadi pedoman tingkah lakunya. Manusia adalah mahkluk yang tidak pernah puas. Manusia selalu menginginkan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan yang pernah dilaluinya. Hal ini mengakibatkan kebutuhan manusia yang tak terbatas karena manusia selalu mengingkan sebuah perubahan dari masa ke masa, peningkatan taraf hidup yang lebih baik lagi. Salah satu cara untuk mencapai kepuasan tersebut adalah dengan menciptakan sebuah budaya. Budaya yang diciptakan oleh manusia memiliki arti yang sangat penting karena merupakan hasil pikiran dan ekspresi jiwa manusia itu sendiri. Kebudayaan yang diciptakan oleh manusia dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Segala segi kehidupan manusia pada umumnya bertumpuan pada sebuah budaya yang telah ada di lingkungannya. Karenanya menjaga keutuhan dan melestarikan budaya adalah penting.

sumber:
http://blog.uin-malang.ac.id/gudangmakalah/2011/04/17/pengertian-dan-tujuan-serta-ruang-lingkup-ilmu-budaya-dasar 
http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia